STUDENT OUTBOUND TRAINING VILLAGE ACTIVITY ADVENTURE TRIP

OBJECTIVE

Hasil penelitian di Amerika
(Malcolm Baldrige), menyatakan bahwa keberhasilan seseorang ternyata ditentukan oleh:

45% Attitude 10% Knowledge 20% Practice 25% Skill

FACT
Fakta yang ditemui saat ini bahwa pada tingkat pelajar penentu kelulusan siswa hanya ditentukan oleh 3 materi ujian pengetahuan, dari 15 yang diajarkannya (10%), dan tidak manyentuh materi dasar/Attitude (45 %). Dari kunci keberhasilan di atas, maka diperlukan pola pembinaan luar sekolah yang dapat mengisi kekosongan atas kebutuhan tersebut.

ATTITUDE
Untuk mengisi kebutuhan pembentukan attitude yang pada masa lampau mungkin masih terbantu oleh mata ajaran Budi Pekerti dan Agama, maka diperlukan sentuhan dalam bentuk lainnya berupa pelatihan kepekaan hati yang akan ditekankan pada kegiatan Student Outbound, sesuai dengan perkembangan usia.

KNOWLEDGE
Di sekolah, pengetahuan yang diajarkan bergerak pada ilmu dasar dan banyak pula yang kurang dalam penerapan praktek lapangannya. Kegiatan Belajar sambil bermain dengan nama Student Outbound Program ini menanamkan pengetahuan tambahan baik yang berkaitan dengan pengetahuan yang diajarkan disekolah maupun pengetahuan lainnya.

PRACTISE
Dalam setiap kegiatan Student Outbound Program ini mengenalkan serta menggunakan metoda PDC (Plan Do Check) yang diajarkan sejak dini untuk membiasakan peserta bekerja dan berfikir dalam kerangka sistem yang dibutuhkan dihari kemudian, walaupun penyajiannya dikemas dalam bentuk permainan yang menarik.

SKILL
Dari setiap kegiatan yang berulang dan bervariatif, diharapkan akan tertanamkan skill/ kemampuan keberhasilan bagi peserta yang pada gilirannya akan berguna diterapkan baik dalam strategi belajar saat ini, maupun pelatihan diri menghadapi persaingan dikemudian hari yang makin lama makin sulit.

METODOLOGI
Materi dikembangkan dengan metoda Experiential Learning Anak-anak belajar dari pengalaman menggunakan sarana gameroll dalam kombinasi suasana fun, exciting dan dibahas dalam materi dasar Ketuhanan, Kesehatan, Prestasi, Keluarga dan Sosial serta Pendekatan Dasar Emosional, Kecerdasan dan Keyakinan, yang dikorelasikan dengan usia dalam kehidupan kesehariannya. Pembahasan atas kegiatan menggunakan pendekatan: Emosional, Kecerdasan dan Keyakinan.

 

OUTBOUND FOR STUDENT: THE VALUES

student-outbound-promo student-outbound-promo2

Kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% kemampuan awalnya (bakat, talenta, postur tubuh dll.). 80% ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya

Akhir-akhir ini, kegiatan outbound tengah menjadi tren dan fenomena yang kian banyak diminati Berbagai organisasi, lembaga, dan perusahaan, ramai-ramai menyelenggarakan kegiatan outbound sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja dan performa anggota atau pegawainya. Bahkan, saat ini, metode outbound mulai dilirik oleh dunia pendidikan dengan dijadikan sebagai sistem pendidikan alternatif berbasis alam, di mana proses pengajaran dilakukan di alam terbuka. Hal ini bisa dilihat dari munculnya sekolah alam di berbagai kota. Bahkan, di lembaga sekolah non-alam (umum) juga banyak yang menjadikan metode outbound sebagai variasi pembelajaran. Secara berkala, peserta didik diajak untuk belajar di alam terbuka Banyak pihak yang menyakini bahwa penggunaan metode outbound memberikan kontribusi positif terhadap kesuksesan belajar.

Kesuksesan atau keberhasilan dalam belajar dapat dicapai jika kita berkonsentrasi dan fokus pada tugas dan tanggung jawab kita.  Bekerja sama adalah salah satu dari sebuah kesuksesan. Dalam bekerja sama ini, penting untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Tidak memandang pendapat kita yang paling benar, tetapi memberikan ruang kepada pendapat orang lain. Bagaimanapun, menyelesaikan masalah dengan melibatkan banyak orang jauh lebih baik daripada kita menyelesaikannya sendiri. Ketakutan adalah musuh dari sebuah usaha mencapai kesuksesan. Ketakutan ini perlu dihadapi. Salah satunya berpikir positif terhadap kemampuan orang lain untuk membantu kita.

Dalam perkembangannya, metode pelatihan alam terbuka (outbound) juga telah digunakan untuk kepentingan terapi kejiwaan. Pendekatan ini digunakan untuk meningkatkan konsep diri anak-anak yang nakal, anak pecandu narkotika, dan kesulitan di dalam hubungan sosial.

Metode yang sama juga digunakan untuk memperkuat hubungan keluarga yang bermasalah dalam program family therapy (terapi keluarga). Afiatin, sebagaimana dikutip Prof. Djamaluddin Ancok, Ph.D (2003), dalam penelitian disertainya telah menggunakan pelatihan outbound untuk penangkalan penggunaan obat terlarang (narkoba).

Dalam penelitiannya, Afiatin menemukan bahwa metode outbound mampu meningkatkan ketahanan terhadap godaan untuk menggunakan narkoba. Selain itu, dilaporkan pula oleh Afiatin, penelitian yang dilakukan Johnson dan Johnson menyebutkan bahhwa kegiatan di dalam outbound training dapat meningkatkan perasaan hidup di masyarakat (sense of community) di antara para peserta pelatihan.

 

ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN ANAK

Aspek Kognitif
Aspek perkembangan kognitif merupakan kemampuan seorang anak untuk secara aktif membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia. Pada perkembangan ini anak beradaptasi dan menginterpretasikan objek-objek dan kejadian di sekitarnya. Perkembangan kognitif sendiri terjadi secara bertahap. Tahap-tahap perkembangan kognitif manusia mulai dari usia anak-anak sampai dewasa; mulai dari proses-proses berpikir secara konkret sampai dengan yang lebih tinggi yaitu konsep-konsep abstrak dan logis.

Aspek Komunikasi
Merupakan kemampuan seorang anak dalam berbahasa, yaitu dalam kemampuan berbicara, mengolah kata, dan lain-lain. Pada usia dini, anak memiliki daya penyerapan yang luar biasa dalam kemampuan berbahasa.

Aspek Sosial Emosional
Merupakan perkembangan dimana seorang anak belajar berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dan belajar bagaimana mengekspresikan dan menyampaikan emosinya. Menurut Elizabeth Hurlock pada masa kanak-kanak pola perilaku yang terlihat adalah kerjasama, persaingan, kemurahan hati, hasrat akan penerimaan sosial, simpati, empat, ketergantungan, sikap ramah, sikap tidak mementingkan diri sendiri, meniru, perilaku kelekatan. Pada aspek ini, anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, baik itu keluarga, sekolah, teman sebaya maupun lingkungan masyarakat. Jadi bukan hal yang mustahil tiap anak akan mengalami perkembangan sosial emosional yang berbeda, tergantung dengan siapa dan dimana ia berinteraksi.

Aspek Fisik Motorik
Merupakan perkembangan pengendalian gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot terkoordinasi (Hurlock: 1998). Motorik anak perlu dilatih agar dapat berkembang dengan baik. Perkembangan motorik anak berhubungan erat dengan kondisi fisik dan intelektual.
Kesemua aspek perkembangan tersebut tentu saja harus dapat dicapai oleh anak secara optimal. Namun tanpa pemilihan dan penggunaan sarana pembelajaran yang tepat masa keemasan seorang anak akan dilalui tanpa ada kemajuan yang berarti dan tanpa pencapaian yang diharapkan.

Maka dari itu orang tua maupun guru tak perlu khawatir mencari sarana pembelajaran yang holistik untuk pencapaian seluruh aspek perkembangan anak. Bali Camp dengan mengusung wahana pendidikan dan wisatanya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif wisata edukatif yang patut dikunjungi.